Eksodus mahasiswa Papua: 'Kosongkan Pulau Jawa' tapi 'pusing mau ditaruh di mana'

papuaHak atas fotoANTARA/DHEMAS REVIYANTO
Image captionSejumlah mahasiswa Papua di Jakarta berdemonstrasi guna menanggapi insiden di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, 17 Agustus lalu.
Ratusan mahasiswa Provinsi Papua dan Papua Barat telah meninggalkan berbagai kota tempat mereka mengenyam pendidikan untuk kembali ke daerah asal, sebulan setelah peristiwa di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur.
Asrama Papua di Kota Bandung berada di jalan besar, di sekitar perumahan elite dan perkantoran.
Bangunan asrama milik Pemda Papua ini beberapa bagian atapnya sudah terlihat lapuk dan dinding temboknya tampak terkelupas di sana-sini.
Pada Selasa (10/09), situasi asrama tampak sepi. Tidak tampak ada mobil polisi yang terparkir di sekitar asrama.
Kondisi ini berbeda saat pertengahan Agustus lalu, setelah kejadian di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Kala itu, aparat polisi berseragam terlihat berjaga di sekitar asrama.
"Sekarang mah paling patroli aja, memantau dari sini, lalu pergi lagi," kata Narso Siswanto, pedagang tanaman hias yang tokonya berada persis di seberang asrama mahasiswa Papua.
Nando Billy, salah seorang penghuni asrama, mengatakan beberapa temannya sudah pulang ke Papua.
"Kebanyakan pulang pas libur kemarin," kata Nando kepada wartawan Julia Alazka yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
papuaHak atas fotoJULIA ALAZKA
Image captionAsrama Papua di Kota Bandung terlihat sepi, pada Selasa 910/09).

'Kosongkan Pulau Jawa'

Weak Kosay, anggota Divisi Pendidikan Ikatan Mahasiswa Setanah Papua (IMASEPA), mengatakan sebagian mahasiswa Papua di Bandung dan sekitarnya telah pulang ke Papua.
"Kami semua mau kosongkan Pulau Jawa karena Pulau Jawa anggap kami bukan seperti manusia lagi. Perlakukan hal-hal yang tidak seperti manusia lakukan. Makanya kami beranggapan hidup di atas tanah kami lebih nyaman dibandingkan hidup di daerah orang lain," kata Weak.
Weak mengaku dia dan rekan-rekannya tidak tahan dengan perlakuan aparat, khususnya setelah kejadian di Surabaya.
"Ketika terjadi kasus di kawan-kawan kami di Surabaya, kami di Bandung juga ikut imbasnya. Kami didatangi polisi, ormas di masing-masing indekos, mes-mes, kontrakan yang ada di Bandung."
"Mereka masuk aja, langsung main tanya-tanya sembarang tanpa surat tugas dari kepolisian dan melakukan intimidasi-intimidasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas kepada kami maupun adik-adik kami yang lagi di bangku sekolah," papar Weak.
Ketika ditanya apa yang dirinya dan rekan-rekannya lakukan ketika kembali ke Papua, Weak mengatakan, "kami pikirnya nanti belakangan, mau kuliahnya di mana, kan kami pulang punya tujuan juga, kenapa harus kami pulang."
Kemudian, ditanya mengenai kelanjutan beasiswa yang menjadi tumpuan mahasiswa Papua dan Papua Barat untuk mengenyam pendidikan, Weak menegaskan, "Kan kampus selain di Indonesia kan banyak juga untuk beasiswa."
Keputusan untuk kembali ke Papua, lanjut Weak, dibuat tanpa pengaruh dari politisi atau tokoh masyarakat di Papua.
"Kami memutuskan pulang tanpa dari pihak politisi atau pemerintah. Itu kami murni mahasiswa atau siswa dari SD, SMP, SMA, sampai mahasiswa yang ada di se-Indoensia ini."
papuaHak atas fotoANTARA FOTO
Image captionMassa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Papua Sejawa-Bali melakukan aksi unjukrasa damai di Depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/8/2019).

Eksodus ratusan mahasiswa Papua

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebutkan bahwa dirinya menerima laporan bahwa lebih dari 800 mahasiswa Papua dan Papua Barat yang pulang.
"Banyak mahasiswa Papua dan Papua Barat yang sedang belajar di daerah-daerah seluruh Indonesia kembali ke Papua dan Papua Barat. Jumlahnya yang dilaporkan sekitar 835," kata Wiranto, Senin (9/9/2019).
"Tapi ini juga akibat dari adanya provokasi, informasi yang tidak benar," tambahnya.
Dia mengatakan, para mahasiswa Papua mendapatkan informasi bahwa apabila mereka tetap belajar di daerah luar Papua dan Papua Barat, maka akan ada ancaman.
Kemudian, keselamatan mereka dikabarkan tak terjamin lantaran adanya kemungkinan balas dendam dan sebagainya.
"Itu kabar burung. Itu hoaks. Hasutan provokasi. Tidak benar," ujar Wiranto.
Bagi para mahasiswa yang telanjur pulang ke Papua, Wiranto mengatakan bahwa pemerintah akan menyiapkan pesawat menuju kota tempat mereka menempuh studi.
"Yang belum kembali [ke tanah asal], tetap lanjutkan studi. Yang sudah kembali, segera balik lagi melanjutkan studi. Panglima TNI menjanjikan dua [pesawat] Hercules untuk mengangkut adik-adik kembali melanjutkan studi," kata Wiranto.
Kepulangan ratusan mahasiswa dari Provinsi Papua dan Papua Barat sejalan dengan isi maklumat Majelis Rakyat Papua (MRP) pada 23 Agustus lalu.
Demo PapuaHak atas fotoBBC NEWS INDONESIA
Image captionMahasiswa Papua di Jakarta menuntut pemerintah menghukum setiap pihak yang terlibat dalam tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.
Melalui pengumuman itu, MRP meminta seluruh mahasiswa asal Papua yang belajar di luar pulau untuk pulang dan melanjutkan studinya di Papua.
"Dengan ini menyerukan kepada mahasiswa Papua, bila tidak ada jaminan keamanan dan kenyamanan dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan aparatur TNI/Polri di setiap kota studi, maka diserukan, para mahasiswa untuk dapat kembali melanjutkan dan menyelesaikan studinya di Tanah Papua," bunyi maklumat itu, yang disahkan di Jayapura pada Rabu (21/08).
Kepada BBC News Indonesia, Ketua MRP, Timotius Murib, menjelaskan maklumat itu dikeluarkan setelah pihaknya mendapat aspirasi dari berbagai kelompok saat demonstrasi di Papua, pada 19 Agustus, dua hari setelah insiden di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya.
"Isi maklumat seperti itu, 'apabila merasa tidak nyaman, diteror terus diintimidasi, pulang saja ke kampung mereka'. Jadi tidak sepakat untuk serta merta pulang, tidak. Ini harus diluruskan, bagi mereka yang mendapatkan kekerasan saja," kata Timotius.
Soal nasib para mahasiswa Papua dan Papua Barat yang kembali ke daerah asal, Timotius Murib mengatakan studi mereka akan dilanjutkan di tanah Papua dan biayanya ditanggung pemerintah.
"Ini wilayah Indonesia, tentu saja biayanya ditanggung oleh pemerintah. Anak-anak ini tidak boleh dibiarkan jadi harus ditanggung oleh pemerintah. Pemerintah harus memikirkan, mereka ini pulang karena ada sebab akibat. Ya pemerintah provinsi akan tanggung itu," seru Timotius.
mahasiswa PapuaHak atas fotoBBC INDONESIA/ ANINDITA PRADANA
Image captionMahasiswa Papua di Jakarta menyesalkan stigma-stigma buruk yang masih dipercaya masyarakat.

'Pusing mau ditaruh di mana'

Akan tetapi, Gubernur Papua Lukas Enembe mempertanyakan kepulangan ratusan mahasiswa Papua.
"Memang sudah ada imbauan dari kami, saya arahkan waktu itu, kalau di NKRI tidak aman, kami pulangkan. Tapi ini aman, kenapa pulang, untuk apa?" tutur Lukas di Jayapura, sebagaimana dikutip kantor berita Antara, Senin (09/09).
Kini, Lukas mengaku pusing.
"Jadi sekarang ini kami pusing mau taruh mereka (kampus mana). Kami akan panggil Gubernur, MRP dan DPR Papua Barat, Direktur Unima, Rektor Uncen, dan para bupati/wali kota untuk bicara kepulangan mahasiswa dalam jumlah besar tanpa pemberitahuan," ujar Lukas.
Sementara itu, Derek Erari, Wakil Rektor Universitas Papua di Manokwari, mengatakan pihaknya sangat bergantung dengan keputusan menteri mengenai penerimaan mahasiswa Papua dari Jawa dan Sulawesi.
"Kalau Pak Menteri minta kita terima, ya kita terima. Tapi sebenarnya bagi saya kondisi aman kok, kenapa mereka harus kembali? Tapi kami di Unipa sampai saat ini belum ada mahasiswa yang datang ke kami," kata Derek kepada BBC News Indonesia.
Menurutnya, Unipa sudah menerima 2.000 mahasiswa pada tahun ajaran baru yang disebut "sudah maksimal".
Hal senada diutarakan Rektor Universitas Cenderawasih, Apolo Safanpo.
"Sangat kecil kemungkinan mahasiswa yang sebelumnya kuliah di berbagai kota di Indonesia bisa melanjutkan studinya di berbagai perguruan tinggi di Papua," kata Apolo sebagaimana dikutip kantor berita Antara, Senin (09/09).
Menurut Apolo, hal tersebut disebabkan karena daya tampung Uncen sendiri terbatas.
Bahkan untuk saat saja sudah dipaksakan agar dapat menerima 6.000 mahasiswa dari daya tampung yang hanya 4.000 mahasiswa.
Untuk itu, dia mengimbau agar mahasiswa Papua yang kuliah di berbagai daerah untuk tetap menyelesaikan perkuliahan di kampus masing-masing.
Share:

Mengapa ada anak yang tega 'membully' anak lain dengan kejam?

perundunganHak atas fotoGETTY IMAGES
Perundungan sering terjadi pada masa kanak-kanak. Dampaknya bagi korban pun bisa membekas seumur hidup. Tapi apa yang membuat seorang anak menjadi 'pembully'?
Ketika RubySam Youngz dirisak saat berusia 10 tahun di sekolah dasar, dia merasa terisolasi dan bingung.
Dia dan keluarganya baru saja pindah dari Inggris ke Wales dan para pembully mempermalukan aksennya.
Mereka juga mulai mengejek penampilannya.
"Tidak ada yang benar-benar masuk akal bagi saya," katanya. "Saya berada di tempat baru, tidak mengenal siapa pun, tidak ada yang menyukai saya, dan saya benar-benar tidak tahu kenapa."
Youngz mengatakan bahwa intimidasi tanpa henti, yang berlanjut sampai sekolah menengah, memiliki efek yang mempengaruhi semua aspek kehidupannya. Ia lantas mulai merokok dan minum minuman keras untuk mengatasinya.
perundunganHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionAnak-anak, meski dianggap polos dan 'masih hijau', nyatanya dapat menjadi perisak yang paling kejam.
Sekarang di usia 46 tahun, ia akhirnya bisa menerima efek intimidasi terhadap dirinya.
"Saya merasa seperti 'tidak ada orang lain yang menyukai saya, jadi saya tidak menyukai diri saya sendiri'," katanya.
Pengalamannya menggarisbawahi fakta yang menyakitkan.
Anak-anak, meski dianggap polos dan 'masih hijau', nyatanya dapat menjadi perisak yang paling kejam.
perundunganHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionDefinisi perundungan yang diadopsi oleh peneliti menyatakan hal itu terjadi karena agresi antara individu atau kelompok yang memiliki tingkat kekuatan berbeda.
Tindakan mereka, bisa jadi tanpa ampun, kejam, dan mengejutkan. Hal ini dapat memiliki implikasi seumur hidup bagi para korban.
Tapi apa yang membuat seorang anak menjadi perisak?
"Untuk sekian lama, dalam literatur penelitian, kami pikir hanya ada satu jenis pengganggu: yakni seorang anak yang sangat agresif yang memiliki masalah harga diri yang mungkin berasal dari keluarga yang kejam atau lalai," kata Dorothy Espelage, profesor pendidikan di University of North Carolina di Chapel Hill.
Namun, temuan itu telah berubah.
Definisi perundungan yang diadopsi oleh peneliti menyatakan hal itu terjadi karena agresi antara individu atau kelompok yang memiliki tingkat kekuatan berbeda.
Mungkin alasan mengapa seseorang menjadi perisak sangat kompleks.
perundunganHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionKekerasan dalam rumah tangga dan kekejaman saudara kandung masih menjadi faktor yang dapat membuat seorang anak menjadi perisak.
Tetapi satu elemen kuncinya yaitu6 perbedaan kekuatan.
"Bisa jadi Anda menggertak saya, dan Anda populer, sementara saya tidak populer, maka perbedaan kekuatan itu menyulitkan saya untuk membela diri," kata Espelage.
Sementara itu, kekerasan dalam rumah tangga dan kekejaman saudara kandung masih menjadi faktor yang dapat membuat seorang anak menjadi perisak.
Akan tetapi, anak-anak yang tumbuh di rumah yang kejam tetapi mendapatkan program anti-perundungan di sekolah dengan dukungan yang baik, tidak selalu akan menjadi perisak.
bullyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSelain bentuk penyerangan yang blak-blakan dan terbuka, penindasan 'Machiavellian' juga telah diteliti.
Penelitian tentang perundungan menjadi lebih berwarna selama beberapa tahun terakhir.
Selain bentuk penyerangan yang blak-blakan dan terbuka, penindasan 'Machiavellian' juga telah diteliti.
Anak-anak yang termasuk dalam kategori ini cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik, seringkali karismatik dan disukai oleh para guru - jauh dari stereotip pengganggu yang "dungu".
Anak-anak ini dapat melakukan intimidasi atau tidak, sesuai dengan kebutuhan mereka.
bulyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSelain bentuk penyerangan yang blak-blakan dan terbuka, penindasan 'Machiavellian' juga telah diteliti.
"Perisak yang dominan secara sosial ingin menjadi pemimpin orang banyak," kata Espelage. "Dan cara mereka melakukan itu adalah mendorong anak-anak lain untuk berada di hierarki sosial terbawah."
Penelitian lain mendukung gagasan bahwa aksi bullying sering kali lebih berhubungan dengan masalah si pelaku intimidasi sendiri, daripada korbannya.
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan anak-anak sekolah di Italia dan Spanyol, murid-murid mengambil bagian dalam simulasi yang melibatkan pemikiran tentang situasi intimidasi dari sudut pandang si perisak.
Para peneliti juga memberi anak-anak kuesioner tentang teman sebaya mereka dan meminta merika mengkategorikan setiap anak sebagai perisak, korban atau orang luar.
bullyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSalah satu cara untuk mengatasi intimidasi adalah sitem pertemanan yang dirancang untuk mendukung teman sebaya, di mana siswa yang lebih muda dibimbing siswa yang lebih tua.
Mereka yang dikategorikan sebagai pelaku intimidasi oleh rekan-rekan mereka cenderung merespons insiden intimidasi dengan pernyataan yang berfokus pada bagaimana insiden itu mempengaruhi pelaku intimidasi itu sendiri (mengatakan hal-hal seperti "Saya akan merasa hebat karena saya mendapat perhatian dari anak-anak lain!" ) atau pernyataan yang menunjukkan kurangnya empati (seperti "Saya tidak merasa bersalah karena saya tidak memikirkannya" dan "Saya akan merasa acuh tak acuh karena korban tidak menderita").
Perundungan juga tercipta dalam bentuk-bentuk yang baru dalam beberapa tahun terakhir.
Satu karakteristik umum dari intimidasi seperti yang didefinisikan sebelumnya oleh para akademisi adalah bahwa perundungan terhadap korban biasanya berulang.
Tetapi dunia online mengaburkan gagasan itu.
perundunganHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSatu karakteristik umum dari intimidasi seperti yang didefinisikan sebelumnya oleh para akademisi adalah bahwa perundungan terhadap korban biasanya berulang. Tetapi dunia online mengaburkan gagasan itu.
"Apakah (perundungan) harus terjadi lebih dari satu kali, ketika Anda telah memposting sesuatu yang bisa dilihat jutaan orang?" tanya Espelage. "Mungkin tidak."
Faktanya, ada irisan yang besar antara intimidasi di sekolah dengan perundungan di internet sehingga beberapa peneliti berpendapat bahwa tindakan itu sama saja - terutama sekarang anak-anak sering membawa ponsel mereka di kelas.
"Dalam penelitian saya, ditemukan bahwa sering kali perundung di sekolah melanjutkan gangguan mereka secara daring," kata Calli Tzani-Pepelasi, dosen psikologi di Universitas Huddersfield.
"Mereka mungkin duduk berdampingan satu sama lain tetapi lebih memilih untuk menggertak melalui media sosial, karena dengan begitu tindakan mereka dapat dilihat lebih banyak dan mereka merasa tenar."
bunuh diriHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionFaktanya, ada irisan yang besar antara intimidasi di sekolah dengan perundungan di internet sehingga beberapa peneliti berpendapat bahwa tindakan itu sama saja - terutama sekarang anak-anak sering membawa ponsel mereka di kelas.
Jadi apa yang harus Anda lakukan jika anak Anda seorang perundung?
Memahami motivasi mereka adalah langkah baik pertama yang bisa diambil.
"Jika seseorang memanggil saya dan mengatakan anak Anda terlibat dalam perundungan, saya ingin mengatakan [kepada anak itu],' OK, apa yang kamu dapatkan dari itu? Mengapa kamu melakukannya? '," Kata Espelage. "Mungkin saja anak Anda ... ada di sekolah di mana mereka diharapkan melakukan perundungan."
Juga patut dipertimbangkan apakah tindakan Anda sendiri dapat memengaruhi anak Anda.
"Untuk beberapa orang tua, gaya interpersonal mereka mungkin menjadi model perilaku itu," katanya.
bullyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionLingkungan sekolah yang mendukung juga penting untuk memberantas perundungan.
Salah satu cara untuk mengatasi intimidasi adalah sitem pertemanan yang dirancang untuk mendukung teman sebaya, di mana siswa yang lebih muda dibimbing siswa yang lebih tua.
"Fakta bahwa siswa yang lebih muda memiliki kesempatan untuk mencontoh perilaku yang baik dari siswa yang lebih senior" adalah salah satu keuntungan dari sistem seperti itu, kata Tzani-Pepelasi.
Tetapi memiliki lingkungan sekolah yang mendukung juga penting untuk memberantas perundungan.
"Dibutuhkan banyak ketekunan, dan konsistensi dari para guru dan staf sekolah secara umum, karena tanpa mereka sistem tidak dapat berfungsi," katanya.
Espelage setuju bahwa hubungan yang kuat antara anak, guru, dan teman sebaya adalah kunci.
bullyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image caption'Sekolah-sekolah yang memperhatikan masalah relasi, memastikan setiap anak merasa diterima di sekolah itu, memiliki lebih sedikit kasus intimidasi.'
"Apa yang kita ketahui dari penelitian adalah sekolah-sekolah yang memperhatikan masalah relasi, memastikan setiap anak merasa diterima di sekolah itu, memiliki lebih sedikit kasus intimidasi," katanya.
Namun, seringkali dukungan itu tidak ada di sana.
Pada 2014, Espelage dan rekan-rekannya menerbitkan penelitian yang dikerjakan selama lima tahun yang menunjukkan hubungan yang mengkhawatirkan antara intimidasi dan pelecehan seksual di sekolah.
Terungkap bahwa intimidasi sering melibatkan penghinaan terkait orientasi seksual, yang kemudian meningkat menjadi pelecehan seksual di tahun-tahun berikutnya di sekolah.
Tetapi anak-anak yang terlibat dalam pelecehan seksual - baik pelaku maupun korban - seringkali tidak memahami seberapa serius insiden itu, mungkin karena guru tidak melakukan tindakan apapun.
bullyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image caption'Hubungan yang kuat antara anak, guru, dan teman sebaya adalah kunci.'
"Intimidasi, julukan 'homofobik', kekerasan seksual, hingga kekerasan dalam berpacaran di kalangan remaja itu nyata," kata Espelage.
Apakah anak-anak akan berhenti menjadi perisak ketika mereka meninggalkan sekolah?
Espelage mengatakan beberapa mungkin melakukannya - atau menemukan jalan keluar yang berbeda untuk tindakan mereka - tetapi tidak semua.
"Saya akan berdebat, berdasarkan pengamatan saya, beberapa [perisak di sekolah] masuk ke profesi di mana jenis perilaku itu diterima, apakah itu seorang polisi, profesor di universitas, atau pengacara."
Mungkin yang paling menyedihkan dari semua itu adalah dampak intimidasi terhadap korban dapat berlangsung selama beberapa dekade, yang mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis mereka.
bullyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image caption'Itimidasi, julukan 'homofobik', kekerasan seksual, hingga kekerasan dalam berpacaran di kalangan remaja itu nyata.'
Youngz, yang diintimidasi di sekolah menengah, sekarang dilatih sebagai spesialis pemulihan dan berharap dapat membantu orang lain yang mengalami pengalaman serupa.
"Orang yang dirisak akan kehilangan perasaan normal, kepercayaan, juga rasa akan keselamatan dan keamanan," katanya.
Perisaknya menghubunginya melalui Facebook awal tahun ini untuk meminta maaf.
Ketika dia menerima pesan itu, Youngz merasa marah.
"Sama sekali tidak ada gunanya bagi saya secara pribadi untuk membantu menghilangkan beban yang dia rasakan (sebagai mantan perisak)," katanya. "Itu mungkin membantunya, aku tidak tahu."
Ia berpikir perundungan adalah benar-benar tentang sang perisak daripada tentang Youngz sendiri.
"Saya merasa kasihan karena dia mungkin merisak saya karena mengalami masalah di keluarganya," katanya. "Tapi saya tidak setuju dengan apa yang dia lakukan."

Share:

Arsip Blog

Recent Posts